Berhubungan dan berkomunikasi dengan byk orang memang menyenangkan, apalagi bila bertemu dengan orang yg udah lama gak menjalin komunikasi dengannya. Walaupun cuma berkomunikasi di dunia maya namun serasa dekat.
Belakangan ini aku keranjingan banget sama yg namanya Facebook, disini aku bisa ketemu dgn teman2 yg dah lama aku gak tau kabarnya, teman2 SMA ku dulu, teman2 kuliah waktu di Banda Aceh, seneng rasanya bisa ketemu mereka di facebook, jadi bisa nanya2 gimana kabarnya, keluarganya dsb..
Di fb semua orang bisa mengekspresikan dirinya, dengan menuliskan statusnya di fb, jadi aku bisa tau teman2 saat ini sedang apa, begitu jg sebaliknya. Gak cuma aku, semua orang saat ini pada menggunakan fesbuk, dan dari informasi yg aku dapat saat ini ada lebih dari seratus juta warga dunia kini keranjingan dengan jaringan sosial di dunia maya, Facebook.com. Karena dgn situs ini penggunanya dpt memperluas pertemanan lintas benua, bahkan bertemu kembali dgn teman2 lama yg gak kelihatan lg seusai perpisahan sekolah.
Gak tanggung2, presiden terpilih AS Barrack Obama juga menggunakan situs ini utk meraih dukungan dalam pemilihan Presiden AS.
Ternyata si pembuat facebook ini adalah seorang keturunan yahudi, dialah Mark Elliot Zuckerberg, dia salah seorang dari tiga pendiri facebook yg saat ini menetap di AS. Aku sempat terhenyak.. ternyata orang Yahudi, aku jadi teringat di akhir tahun lalu sodara2 kita di Palestina di serang habis2an oleh zionis israel yg memang nyata2 keturunan Yahudi. Bayangkan brp uang yg mengalir ke kantong pemerintah AS yg nyata2 pendukung penuh Israel. Terang aja mereka punya dana yg besar untuk ngebiayain para zionis Israel utk membeli perlengkapan perang, dan itu digunakan untuk membunuh sodara2 kita yg ada di Palestina sana...
Dari informasi yg aku dapat hari ini, nilai ekonomi facebook di taksir sebesar 15 miliar dollar AS, hmm.. mungkin kalo dirupiahin setara dgn 180 triliun rupiah, wow.. sebuah angka yg cukup fanastis..
Kayaknya orang2 keturunan Yahudi tu emang pinter2 yah.. beberapa saat yg lalu aku menerima email ttg rahasia kecerdasan orang Yahudi. Sejak mengetahui sang ibu sedang mengandung, maka sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano, bahkan bersama sang suami mereka akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal2 yg ada di dalamnya bersama-sama.
Ternyata itu untuk melatih otak sang anak yg masih dalam kandungan agar nantinya dia menjadi jenius, dan mengerjakan latihan matematika itu dilakukan sampai si ibu melahirkan. Selain itu selama mengandung wanita2 Yahudi selalu makan ikan karna daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak anak, dan itu menjadi semacam kewajiban bagi ibu yg sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.
Mereka juga selalu makan buah-buahan dahulu sebelum hidangan utama, karena menurut mereka dengan memakan hidangan karbohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah-buahan, akan menyebabkan kita merasa mengantuk sehingga lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.
Bangsa Israel jg menganggap tabu pada rokok, karna menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan bahwa nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Ini artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yg cacat otak (bodoh).
Duuh.. jadi miris.. di sini, di negeri tercinta Indonesia masi byk orang2 yg ngerokok sesuka mereka, padahal pemerintah udah jelas2 melarang merokok di tempat2 umum, tapi ya.. gitulah.. mungkin belum sampai ke mereka informasi ttg keburukan2 yg diakibatkan oleh rokok, atau.. sebenarnya mereka udah tau tapi gak mau tau...?!%^#$@
Tapi informasi ttg kebiasaan orang2 Yahudi saat mereka mengandung anaknya bisa jadi tambahan informasi yg bagus buat para calon ibu dan ayah, agar kelak anak2 mereka nantinya bisa secerdas bangsa Yahudi, semoga...
Sabtu, Februari 28, 2009
Rabu, Desember 24, 2008
Ibu, I Miss You So Much
Semua orang tau kalau tanggal 22 Desember adalah hari ibu, begitupun aku, tak lupa aku sms mamaku untuk mengucapkan selamat hari ibu, "selamat hari ibu ya ma, terima kasih atas segala yg mama berikan untuk kami anak-anak mama, I love u mom.."
Gak harus di hari ibu, hari-hari lainpun di setiap harinya kita wajib menyayangi ibu kita, yg telah dengan susah payah mengandung dan merawat kita, yang dengan penuh kasih sayang membesarkan dan mengajar anak-anaknya.
Pagi ini seperti biasa sebelum memulai aktivitas di kantor aku membuka buka email, seorang teman mengirimiku email yg judulnya, "ibu, i miss u so much.." sebenarnya udah cukup lama aku pernah membaca cerita ini di email, tapi aku menerima lagi kiriman yg sama dari teman yg berbeda. Ceritanya cukup menarik, betapa doa seorang ibu akan sangat besar efeknya bagi kehidupan sang anak.
Waktu pertama kali membaca tulisan itu, aku gak pernah tau siapa penulisnya, ternyata subhanallah, aku bertemu langsung dengan sang empunya cerita pada saat pembekalan motivasi di kantor kami, dialah Jamil Azzaini, Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP. Di akhir motivasinya dia bercerita tentang pengalamannya saat kecil, waktu itu baru aku sadar bahwa dialah penulis cerita di email itu, berikut ceritanya..
Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.
Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.
Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu". Sayapun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya" Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil." "Memang harganya berapa dok?" Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik." "Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".
Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan." "Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.
Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."
Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.
Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.
Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"
"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.
Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.
Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."
Saya meninggalkan ruangan dokter itu.... dengan berbisik pada diri sendiri "Ibu, I miss you so much."
Gak harus di hari ibu, hari-hari lainpun di setiap harinya kita wajib menyayangi ibu kita, yg telah dengan susah payah mengandung dan merawat kita, yang dengan penuh kasih sayang membesarkan dan mengajar anak-anaknya.
Pagi ini seperti biasa sebelum memulai aktivitas di kantor aku membuka buka email, seorang teman mengirimiku email yg judulnya, "ibu, i miss u so much.." sebenarnya udah cukup lama aku pernah membaca cerita ini di email, tapi aku menerima lagi kiriman yg sama dari teman yg berbeda. Ceritanya cukup menarik, betapa doa seorang ibu akan sangat besar efeknya bagi kehidupan sang anak.
Waktu pertama kali membaca tulisan itu, aku gak pernah tau siapa penulisnya, ternyata subhanallah, aku bertemu langsung dengan sang empunya cerita pada saat pembekalan motivasi di kantor kami, dialah Jamil Azzaini, Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP. Di akhir motivasinya dia bercerita tentang pengalamannya saat kecil, waktu itu baru aku sadar bahwa dialah penulis cerita di email itu, berikut ceritanya..
Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.
Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.
Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu". Sayapun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya" Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil." "Memang harganya berapa dok?" Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik." "Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".
Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan." "Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.
Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."
Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.
Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.
Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"
"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.
Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.
Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."
Saya meninggalkan ruangan dokter itu.... dengan berbisik pada diri sendiri "Ibu, I miss you so much."
Jumat, Desember 19, 2008
Indahnya Berbagi Cerita
Berbagi cerita itu memang menyenangkan, apalagi bila berbagi cerita dengan teman-teman senasib, bisa mengurangi rasa yang membuncah di dada akibat penantian yg belum kunjung datang.
Akhir-akhir ini, tepatnya 2 bulan belakangan ini aku punya kebiasaan baru, rajin membuka website www.weddingku.com (WK), awalnya gak sengaja ketemu site ini, waktu mencari nama seorang dokter di mesin pencari google aku mengklik sebuah website yang menyebut nama doker yang aku cari. Ternyata disitu ada diskusi tentang kehamilan, aku tertarik dan terus membaca diskusi dan sharing yang ada disitu. Awalnya cuma membaca sharing or curhatan tapi lama-lama aku jadi tertarik untuk ikut join di forum diskusi itu. Berbagai macam topik diskusi yg disajikan, namun aku lebih memilih diskusi ttg pregnancy and parenting yg ada disitu, mulai dari kehamilan, masalah2 kehamilan, cara merawat bayi, dokter-dokter bagus yg direkomendasiin oleh mereka-mereka yg udah hamil, ada juga topik tentang terapi akupuntur untuk kehamilan, apa-apa yang dirasakan selama kehamilan dan curhatan dari teman-teman yg telah menikah namun belum kunjung hamil.
Berbagai cerita yg diungkapkan teman-teman disitu, ada yang sedih karna terus ditanyain oleh mertua dan sodara-sodara kenapa kok belom hamil juga padahal usia pernikahan udah lebih dari 5 tahun, ada yang belom bisa hamil karna ada masalah dengan rahim, tuba yg mampet, ACA yang tinggi, PCO, ada yg udah insem berkali-kali namun gagal terus, ada yg baru insem sekali tapi berhasil hamil, ada yang berencana akan program bayi tabung. Termasuk aku, menjelang usia pernikahan kami yang kelima, belum ada tanda-tanda kalau kami akan mendapat momongan, doa terus kami panjatkan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk segera mendapatkan apa yg menjadi keingingan setiap keinginan pasangan yg menikah, yaitu memiliki anak.
Di tahun pertama dan kedua pernikahan kami aku masih nyantai kendati belum hamil, memasuki tahun ketiga baru sadar kenapa kok belom juga, akhirnya mulai ke dokter, tapi waktu itu ke dokternya jg cuma sekali-sekali, kalo pas niat aja ke dokter, gak dirutinkan. Udah beberapa kali pindah dokter karna saat itu kami masih ngontrak, jadi nyari dokternya yang deket-deket kontrakan. Memasuki tahun ke empat baru kami benar-benar merasa harus sekaranglah saatnya untuk benar-benar serius terhadap masalah yg satu ini. Udah beberapa dokter yang kami datangi, tapi belom ada yg sreg, bukan apa-apa, tapi biaya konsul pengobatannya itu yg mahal banget, menurutku gak normal biaya segitu dibandingkan dengan biaya konsul dokter lainnya yg sama-sama dokter kandungan.
Atas saran seorang teman kami pindah ke dokter lain, dokter ini bener-bener berbeda dari dokter-dokter kandungan yg pernah kami datangi sebelumnya, dia kelihatan smart, dia sangat ramah, dan selalu mensupport dan membesarkan hati pasien, padahal dia dokter muda, dari perbincangan dengan beberapa suster aku mendapat informasi bahwa dokter yg satu itu mengambil spesialis kebidanan di Australia dan sudah banyak yg berhasil menangani pasien yg bermasalah dengan kehamilan. Kami langsung mencoba proses inseminasi, maklum udah kebelet banget pengen punya anak makanya kami ikut proses yg cepat, namun kelihatannya Allah masih belum berkehendak memberikan kehamilan itu kepadaku, insem itu gagal, padahal setelah proses insem itu sendiri aku memperlakukan diriku layaknya wanita hamil, kenapa? Karna hari ketiga dan kelima setelah insem aku disuntik pregnyl untuk penguat rahim, merasa bahwa aku akan hamil, aku mulai hati-hati, gak mau terlalu capek, berjalan pelan-pelan, padahal biasanya begitu keluar dari kantor aku setengah berlari mengejar metromini 604 yang menuju stasiun sudirman, waktu mau ngantri karcispun aku setengah berlari karna takut ketinggalan kereta. Selain berhati-hati dan menjaga agar gak terlalu capek, aku rajin minum susu, dan rajin makan sayuran.
Namun kenyataan berkata lain, insem itu belum berhasil, sedih sih... karna udah ngarap banget, tapi berusaha mencoba untuk ikhlas karna bagaimanapun kerasnya usaha yg kami lakukan untuk mendapatkan momongan, kalau Allah belum berkehendak maka apa yang kami harapkan belum akan diberi olehNya, Allahlah yg lebih mengetahui apa yg terbaik buat kami, hambanya yg lemah ini, mungkin suatu hari nanti kami akan mengetahui hikmah dibalik cobaan ini.
Namun untungnya keluargaku dan keluarga suami semuanya pengertian, gak pernah nanyain atau menghakimi yg macem-macem, itu yg membuatku agak sedikit tenang. Berbeda dengan cerita teman-teman di WK, ada yang sedih banget karna iparnya sendiri yg ngatain yg enggak-enggak karna belum hamil, atau teman2 sekantor yg suka ngejek ko gak bisa hamil. Padahal siapa sih yg gak pengen punya anak, cuma mungkin waktunya aja yg belom tepat untuk dikasih sama Allah. Tapi selain cerita2 sedih tentu aja masih ada yg selalu ngasih support utk tetap semangat dan terus berusaha, jadi antar sesama forum diskusi saling menguatkan, itu yang membuat kami2 serasa dekat walaupun diantara kami belom pernah bertemu satu sama lain. Indahnya berbagi cerita..
Akhir-akhir ini, tepatnya 2 bulan belakangan ini aku punya kebiasaan baru, rajin membuka website www.weddingku.com (WK), awalnya gak sengaja ketemu site ini, waktu mencari nama seorang dokter di mesin pencari google aku mengklik sebuah website yang menyebut nama doker yang aku cari. Ternyata disitu ada diskusi tentang kehamilan, aku tertarik dan terus membaca diskusi dan sharing yang ada disitu. Awalnya cuma membaca sharing or curhatan tapi lama-lama aku jadi tertarik untuk ikut join di forum diskusi itu. Berbagai macam topik diskusi yg disajikan, namun aku lebih memilih diskusi ttg pregnancy and parenting yg ada disitu, mulai dari kehamilan, masalah2 kehamilan, cara merawat bayi, dokter-dokter bagus yg direkomendasiin oleh mereka-mereka yg udah hamil, ada juga topik tentang terapi akupuntur untuk kehamilan, apa-apa yang dirasakan selama kehamilan dan curhatan dari teman-teman yg telah menikah namun belum kunjung hamil.
Berbagai cerita yg diungkapkan teman-teman disitu, ada yang sedih karna terus ditanyain oleh mertua dan sodara-sodara kenapa kok belom hamil juga padahal usia pernikahan udah lebih dari 5 tahun, ada yang belom bisa hamil karna ada masalah dengan rahim, tuba yg mampet, ACA yang tinggi, PCO, ada yg udah insem berkali-kali namun gagal terus, ada yg baru insem sekali tapi berhasil hamil, ada yang berencana akan program bayi tabung. Termasuk aku, menjelang usia pernikahan kami yang kelima, belum ada tanda-tanda kalau kami akan mendapat momongan, doa terus kami panjatkan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk segera mendapatkan apa yg menjadi keingingan setiap keinginan pasangan yg menikah, yaitu memiliki anak.
Di tahun pertama dan kedua pernikahan kami aku masih nyantai kendati belum hamil, memasuki tahun ketiga baru sadar kenapa kok belom juga, akhirnya mulai ke dokter, tapi waktu itu ke dokternya jg cuma sekali-sekali, kalo pas niat aja ke dokter, gak dirutinkan. Udah beberapa kali pindah dokter karna saat itu kami masih ngontrak, jadi nyari dokternya yang deket-deket kontrakan. Memasuki tahun ke empat baru kami benar-benar merasa harus sekaranglah saatnya untuk benar-benar serius terhadap masalah yg satu ini. Udah beberapa dokter yang kami datangi, tapi belom ada yg sreg, bukan apa-apa, tapi biaya konsul pengobatannya itu yg mahal banget, menurutku gak normal biaya segitu dibandingkan dengan biaya konsul dokter lainnya yg sama-sama dokter kandungan.
Atas saran seorang teman kami pindah ke dokter lain, dokter ini bener-bener berbeda dari dokter-dokter kandungan yg pernah kami datangi sebelumnya, dia kelihatan smart, dia sangat ramah, dan selalu mensupport dan membesarkan hati pasien, padahal dia dokter muda, dari perbincangan dengan beberapa suster aku mendapat informasi bahwa dokter yg satu itu mengambil spesialis kebidanan di Australia dan sudah banyak yg berhasil menangani pasien yg bermasalah dengan kehamilan. Kami langsung mencoba proses inseminasi, maklum udah kebelet banget pengen punya anak makanya kami ikut proses yg cepat, namun kelihatannya Allah masih belum berkehendak memberikan kehamilan itu kepadaku, insem itu gagal, padahal setelah proses insem itu sendiri aku memperlakukan diriku layaknya wanita hamil, kenapa? Karna hari ketiga dan kelima setelah insem aku disuntik pregnyl untuk penguat rahim, merasa bahwa aku akan hamil, aku mulai hati-hati, gak mau terlalu capek, berjalan pelan-pelan, padahal biasanya begitu keluar dari kantor aku setengah berlari mengejar metromini 604 yang menuju stasiun sudirman, waktu mau ngantri karcispun aku setengah berlari karna takut ketinggalan kereta. Selain berhati-hati dan menjaga agar gak terlalu capek, aku rajin minum susu, dan rajin makan sayuran.
Namun kenyataan berkata lain, insem itu belum berhasil, sedih sih... karna udah ngarap banget, tapi berusaha mencoba untuk ikhlas karna bagaimanapun kerasnya usaha yg kami lakukan untuk mendapatkan momongan, kalau Allah belum berkehendak maka apa yang kami harapkan belum akan diberi olehNya, Allahlah yg lebih mengetahui apa yg terbaik buat kami, hambanya yg lemah ini, mungkin suatu hari nanti kami akan mengetahui hikmah dibalik cobaan ini.
Namun untungnya keluargaku dan keluarga suami semuanya pengertian, gak pernah nanyain atau menghakimi yg macem-macem, itu yg membuatku agak sedikit tenang. Berbeda dengan cerita teman-teman di WK, ada yang sedih banget karna iparnya sendiri yg ngatain yg enggak-enggak karna belum hamil, atau teman2 sekantor yg suka ngejek ko gak bisa hamil. Padahal siapa sih yg gak pengen punya anak, cuma mungkin waktunya aja yg belom tepat untuk dikasih sama Allah. Tapi selain cerita2 sedih tentu aja masih ada yg selalu ngasih support utk tetap semangat dan terus berusaha, jadi antar sesama forum diskusi saling menguatkan, itu yang membuat kami2 serasa dekat walaupun diantara kami belom pernah bertemu satu sama lain. Indahnya berbagi cerita..
Langganan:
Postingan (Atom)







